<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kimia Analisa &#187; Teori Kimia Analisa</title>
	<atom:link href="http://kimiaanalisa.web.id/category/teori-kimia-analisa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kimiaanalisa.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Jul 2011 09:48:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Hukum Lambert-Beer: Perhitungan Kuantitatif Absorbsi Radiasi Dengan Konsentrasi</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 09:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spektrometri]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Lambert-Beer: Perhitungan Kuantitatif Absorbsi Radiasi Dengan Konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[spektrofotomeri]]></category>
		<category><![CDATA[spektrometri uv-vis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Banyaknya sinar radiasi yang diabsorbsi oleh suatu larutan analit dapat dihubungkan dengan konsentrasi analit tersebut. Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan Hukum Lambert-Beer. Pada tahun 1729 Bouguer dan tahun 1760 Lambert menyatakan bahwa apabila energi elektomagnetik diabsorbsi oleh suatu larutan maka kekuatan energi yang akan ditransmisikan kembali akan menurun secara geometri (secara eksponensial) dengan jarak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyaknya sinar radiasi yang diabsorbsi oleh suatu larutan analit dapat dihubungkan dengan konsentrasi analit tersebut. Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan Hukum Lambert-Beer.</p>
<p>Pada tahun 1729 Bouguer dan tahun 1760 Lambert menyatakan bahwa apabila energi elektomagnetik diabsorbsi oleh suatu larutan maka kekuatan energi yang akan ditransmisikan kembali akan menurun secara geometri (secara eksponensial) dengan jarak atau panjang yang ditempuh oleh gelombang tersebut.</p>
<p>Perhatikan gambar berikut ini. Cahaya dengan intensitas Io melewati suatu larutan dengan konsentrasi c, dan ketebalan wadah larutan b, dan cahaya yang keluar memiliki intensitas I.</p>
<div id="attachment_138" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/hukumlambert-beer/" rel="attachment wp-att-138"><img class="size-full wp-image-138" title="hukumlambert-beer" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/hukumlambert-beer.png" alt="" width="300" height="252" /></a><p class="wp-caption-text">cahaya dengan intensitas Io melewati larutan dengan ketebalan b dan konsentrasi c, sinar yang keluar memiliki intensitas I</p></div>
<p>Dari pernyataan Lambert dan Bouguer maka kita dapat menghitung besarnya transmitansi (T ) sinar yang telah melewati larutan tersebut dengan persamaan seperti ini,</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/hukum-lambert-2/" rel="attachment wp-att-141"><img class="aligncenter size-full wp-image-141" title="hukum lambert" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/hukum-lambert1.jpg" alt="" width="316" height="137" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>dimana k adalah suatu konstanta. Pada tahun 1852 Beer dan Bernard secara terpisah menyatakan hukum yang hampir sama namun kali ini nilai T dipengaruhi oleh konsentrasi analit yang ada di dalam larutan.</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/hukumbeer-1/" rel="attachment wp-att-142"><img class="aligncenter size-full wp-image-142" title="hukumbeer-1" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/hukumbeer-1.jpg" alt="" width="320" height="148" /></a></p>
<p>dimana k&#8217; adalah konstanta yang baru. Dengan menggabungkan persamaan 1 dan 2 akan diperoleh persamaan sebagai berikut,</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/rumus-absorbansi/" rel="attachment wp-att-143"><img class="aligncenter size-full wp-image-143" title="rumus absorbansi" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/rumus-absorbansi.jpg" alt="" width="370" height="282" /></a></p>
<p>dengan a adalah gabungan konstanta k dan k&#8217;. Disebabkan transmitansi T dinyatakan dalam persen %T = I/Io x100 maka persamaan diatas bisa dirubah menjadi,</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/rumusabsorbansi-1/" rel="attachment wp-att-144"><img class="aligncenter size-full wp-image-144" title="rumusabsorbansi-1" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/rumusabsorbansi-1.jpg" alt="" width="280" height="78" /></a></p>
<p>b biasanya dinyatakan dalam satuan cm, sedangkan a dalam satuan g/liter, a biasanya disebut sebagai absortivitas dan nilainya bergantung pada panjang gelombang dan jenis zat. Hasil kali antara absortivitas dengan berat molekul zat terlarut akan menghasilkan absortivitas molar, e sehingga rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut,</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/rumusabsorbansi-2/" rel="attachment wp-att-145"><img class="aligncenter size-full wp-image-145" title="rumusabsorbansi-2" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/rumusabsorbansi-2.jpg" alt="" width="105" height="51" /></a>atau</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/rumusabsorbansi-3/" rel="attachment wp-att-147"><img class="aligncenter size-full wp-image-147" title="rumusabsorbansi-3" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/rumusabsorbansi-3.jpg" alt="" width="101" height="47" /></a></p>
<p>dengan a = L/cm.g dan e = L/acm.mol. Kedua rumus diatas menjadi dasar perhitungan untuk analisa yang berbasis spektrometri, dan biasanya di sebut sebagai hukum Lambert-Beer atau ada kalanya hanya disebut sebagai hukum beer.</p>
<p>Persamaan diatas identik dengan persamaan matematika y = mx dimana m atau gradien menunjukkan ab, y sama dengan absorbansi dan x adalah konsentrasi. Pada dasarnya panjang tagung untuk menempatkan larutan yang dipakai dalam analisi ini adalah 1 cm sehingga dengan mengukur nilai A pada konsentrasi analait yang berbeda kita bisa mendapatkan absortivitas analit.</p>
<p>Berikut grafik antara prosentasi transmitansi %T dengan panjang lintasan.</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/tvpath/" rel="attachment wp-att-151"><img class="aligncenter size-full wp-image-151" title="Tvpath" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/Tvpath.gif" alt="" width="285" height="228" /></a></p>
<p>Berikut grafik antara absorbansi dengan panjang lintasan.</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/avpath/" rel="attachment wp-att-152"><img class="aligncenter size-full wp-image-152" title="Avpath" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/Avpath.gif" alt="" width="291" height="224" /></a></p>
<p>Plot antara nilai absorbansi dengan konsentrasi akan diperoleh grafik yang sama, akan tetapi mengalami deviasi pada konsentrasi yang tinggi. Inilah sebabnya dalam penentuan konsentrasi dengan menggunakan spektrometri biasanya kita menggunakan konsentrasi yang tidak terlampau besar.</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/beersdev/" rel="attachment wp-att-155"><img class="aligncenter size-full wp-image-155" title="beersdev" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2011/07/beersdev.gif" alt="" width="269" height="173" /></a></p>
<p>Apa pentingnya nilai &#8216;e&#8217; atau absorbtivitas molar? jika persamaan diatas ditulis dalam bentuk e maka akan tampak seperti e=A/bc atau dengan kata lain e adalah ukuran berapa jumlah cahaya yang telah diabsorbsi oleh analit per unit konsentrasinya.</p>
<p>absorbtivitas molar nilainya adalah tetap untuk setiap zat, dan senyawa dengan nilai e yang besar serta senyawa dengan konsentrasi rendah akan tetapi nilai e nya besar akan lebih mudah dideteksi.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>hukum lambert beer</li><li>hukum lambert-beer</li><li>hukum beer</li><li>hukum beer lambert</li><li>definisi hukum beer</li><li>Lambert Beer</li><li>persamaan lambert-beer</li><li>pengertian hukum beer</li><li>hukum lamber beer</li><li>hukum radiasi</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/hukum-lambert-beer-perhitungan-kuantitatif-absorbsi-radiasi-dengan-konsentrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurva Titrasi Redoks</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/kurva-titrasi-redoks/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/kurva-titrasi-redoks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 04:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Redoks]]></category>
		<category><![CDATA[Kurva Titrasi Redoks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum kita belajar untuk menggambar kurva titrasi redoks maka kita harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana mencari konstanta kesetimbangan reaksi redoks. Konstanta tersebut dapat dipakai untuk mencari konsentrasi spesies yang terlibat dalam reaksi redoks pada saat titik equivalent terjadi. Potensial sel akan benilai “nol” pada saat kesetimbangan tercapai atau dengan kata lain penjumlahan potensial setengah reaksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum kita belajar untuk menggambar kurva <a title="titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Titrasi-Redoks">titrasi redoks</a> maka kita harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana mencari konstanta kesetimbangan reaksi redoks. Konstanta tersebut dapat dipakai untuk mencari konsentrasi spesies yang terlibat dalam reaksi redoks pada saat titik equivalent terjadi. Potensial sel akan benilai “nol” pada saat kesetimbangan tercapai atau dengan kata lain penjumlahan potensial setengah reaksi reduksi dan setengah reaksi oksidasi akan sama dengan “nol”, dengan demikian persamaan Nernst untuk keduanya dapat disamakan.</p>
<p>Persamaan Nernst untuk reaksi  aOks  + ne  -&gt; bRed dapat dinyatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">E = Eo – 2.3026RT/nF log [red]b/[Oks]a</span></strong></p>
<p>Pada 25 C nilai 2.3026RT/F adalah 0.05916/n sehingga persamaan diatas dapat ditulis lagi menjadi:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">E = Eo – 0.05916/n log [red]b/[Oks]a</span></strong></p>
<p>Pada saat reaksi redoks mencapai kesetimbangan maka nila Ered akan sama dengan nilai Eoks. Sedangkan hubungan antara energi bebas dengan konstanta kesetimbangannya adalah sebagai berikut</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>?Go = -RT ln K atau ?Go=-nFEo</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>-RT ln K = -nFE</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Eo = RT/nF ln K</strong></span></p>
<p>Secara umum potensial larutan pada titik ekuivalen dapat dicari dengan persamaan berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">E =  (n1Eo1 + n2Eo2) / n1+n2</span></strong></p>
<p>Dengan syarat reaksi tidak melibatkan ion poliatomik seperti CrO42- dan tidak melibatkan ion hydrogen. Indeks 1 untuk setengah reaksi oksidasi dan 2 untuk setengah reaksi reduksi.</p>
<p>Kurva titrasi dibuat dengan mengeplotkan potensial larutan terhadap volume larutan titrant yang ditambahkan (modifikasi alat dapat dilihat pada gambar) dimana 1 merupakan elektroda untuk mengukur potensial atau dapat berupa pH meter, dan 2 merupakan alat untuk tempat titrant. Setelah titrant ditambahkan maka larutan diaduk dengan stir magnetic agar reaksi berjalan merata dan cepat.</p>
<p>Berikut kurva titrasi antara larutan Besi(II)amonium sulfat dengan 0.02 M kalium permanganat (analit dibuat dari 95 mL Besi(II)amonium sulfat kira-kira 0.02 M ditambah dengan 5 mL asam sulfat pekat.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-123" href="http://kimiaanalisa.web.id/kurva-titrasi-redoks/kurvatitrasibesiii/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-123" title="kurvatitrasibesiII" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2010/07/kurvatitrasibesiII-300x224.gif" alt="kurva titrasi redoks" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Dari gambar diketahui bahwa titik akhir titrasi diperoleh pada saat penambahan KMnO4 sebanyak 20.4 mL.</p>
<p>Maka mmol KMnO4 = 0.02 M x 20.4 mL = 0.408 mmol</p>
<p>Mmol Besi(II) = 5 x 0.408 = 0.00204 mol</p>
<p>[Fe2+] = 0.00204 mol/0.1 L = 0.0204 M</p>
<p>Lihat disini untuk <a title="soal titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/category/soal/soal-titrasi-redoks/ ">soal titrasi redoks</a>.</p>
<p>Thanks to www.chemie.uni-regensburg.de atas sumber gambar kurva.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>hukum nerst</li><li>pengertian kurva titrasi</li><li>kegunaan kurva titrasi</li><li>Gambar redoks</li><li>titrasi asam fosfat</li><li>potensial reaksi redoks</li><li>kurva titrasi asam fosfat</li><li>reaksi redoks antara besi(II)sulfat asam sulfat asam posphat dan kalium permanganat</li><li>kurva titrasi amperometri</li><li>kurva kimia</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/kurva-titrasi-redoks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iodometri</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/115/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/115/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 04:18:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Redoks]]></category>
		<category><![CDATA[iodometri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Pada titrasi iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I- (iodide) untuk menghasilkan I2, I2 yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali. Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikan dengan oksidator kuat. Iodida tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-116" href="http://kimiaanalisa.web.id/115/iodometri/"><img class="alignleft size-medium wp-image-116" title="iodometri" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2010/07/iodometri-199x300.jpg" alt="iodometri" hspace="10" vspace="10" width="199" height="300" /></a>Pada<a title="titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Titrasi-Redoks"> titrasi</a> iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I- (iodide) untuk menghasilkan I2, I2 yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali.</p>
<p>Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikan dengan oksidator kuat. Iodida tidak dipakai sebagai titrant hal ini disebabkan karena factor kecepatan reaksi dan kurangnya jenis indicator yang dapat dipakai untuk iodide. Oleh sebab itu titrasi kembali merubakan proses titrasi yang sangat baik untuk titrasi yang melibatkan iodide. Senyawaan iodide umumnya KI ditambahkan secara berlebih pada larutan oksidator sehingga terbentuk I2. I2 yang terbentuk adalah equivalent dengan jumlah oksidator yang akan ditentukan. Jumlah I2 ditentukan dengan menitrasi I2 dengan larutan standar tiosulfat (umumnya yang dipakai adalah Na2S2O3) dengan indicator amilum jadi perubahan warnanya dari biru tua kompleks amilum-I2 sampai warna ini tepat hilang.</p>
<p>Reaksi yang terjadi pada titrasi iodometri untuk penentuan iodat adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">IO3-  + 5 I-  + 6H+  -&gt; 3I2  + H2O</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>I2 + 2 S2O32-  -&gt; 2I- + S4O62-</strong></p>
<p>Setiap mmol IO3- akan menghasilkan 3 mmol I2 dan 3 mmol I2 ini akan tepat bereaksi dengan 6 mmol S2O32- (ingat 1 mmol I2 tepat bereaksi dengan 2 mmol S2O32-) sehingga mmol IO3- ditentukan atau setara dngan 1/6 mmol S2O32-.</p>
<p>Mengapa kita menitrasi langsung antara tiosulfat dengan <a title="titran dan analit" href="http://kimiaanalisa.web.id/syarat-memilih-titran-dan-analit-untuk-titrasi/ ">analit</a>? Beberapa alasan yang dapat dijabarkan adalah karena analit yang bersifat sebagai oksidator dapat mengoksidasi tiosulfat menjadi senyawaan yang bilangan oksidasinya lebih tinggi dari tetrationat dan umumnya reaksi ini tidak stoikiometri. Alasa kedua adalah tiosulfat dapat membentuk ion kompleks dengan beberapa ion logam seperti Besi(II).</p>
<p>Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi Iodometri adalah sebagai berikut:</p>
<p>Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari oranye sampai coklat  akibat terdapatnya I2 dalam jumlah banyak), alasannya kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi, alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum</p>
<p>Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodide oleh udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>S2O32-  +  2H+  -&gt; H2SO3 + S</strong></span></p>
<p>Pastikan jumlah iodide yang ditambahkan adalah berlebih sehingga semua analit tereduksi dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak akan mengganggu jalannya titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera maka I- dapat teroksidasi oleh udara menjadi I2.</p>
<p><strong>Bagaimana menstandarisasi larutan tiosulfat?</strong></p>
<p>Tiosulfat yang dipakai dalam titrasi iodometri dapat <a title="larutan standar" href="http://kimiaanalisa.web.id/bagaimana-membuat-larutan-standar/ ">distandarisasi</a> dengan menggunakan senyawa oksidator  yang memiliki kemurnian tinggi (analytical grade) seperti K2Cr2O7, KIO3, KBrO3, atau senyawaan tembaga(II).</p>
<p>Bila digunakan Cu(II) maka pH harus dibuffer pada pH 3 dan dipakai tiosianat untuk masking agent, KSCN ditambahkan pada waktu mendektitik akhir titrasi dengan tujuan untuk menggantikan I2 yang teradsorbsi oleh CuI. Bila pH yang digunakan tinggi maka tembaga(II) akan terhidrolisis dan akan terbentuk hidroksidanya. Jika keasaman larutan sangat tinggi maka cenderung terjadi reaksi I- sebagai akibat adanya Cu(II) dalam larutan yang megkatalis reaksi tersebut.</p>
<p><strong>Beberapa contoh reaksi iodometri adalah sebagai berikut</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>2MnO4-  + 10 I- + 16 H+  &lt;-&gt; 2Mn2+  + 5 I2 + 8H2O</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cr2O72- + 6I- &lt;-&gt; 14 H+  &lt;-&gt; 2Cr3+  + 3 I2 + 7H2O</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>2Fe3+  +  2I-  &lt;-&gt; 2Fe2+  + I2</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>2 Ce4+  + 2I-  &lt;-&gt; 2Ce3+ + I2</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Br2  + 2I-  &lt;-&gt; 2Br-  + I2</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;">Lihat disini untuk<a title="soal titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/category/soal/soal-titrasi-redoks/ "> soal titrasi redoks</a>.</span></span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>iodometri</li><li>titrasi iodometri</li><li>iodometri adalah</li><li>pengertian iodometri</li><li>titrasi iodometri adalah</li><li>reaksi iodometri</li><li>Metode iodometri</li><li>Pengertian Titrasi iodometri</li><li>Titrasi kembali</li><li>dasar teori iodometri</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/115/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iodimetri</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/iodimetri/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/iodimetri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 04:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Redoks]]></category>
		<category><![CDATA[iodimetri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Iodimetri merupakan titrasi redoks yang melibatkan titrasi langsung I2 dengan suatu agen pereduksi. I2 merupakan oksidator yang bersifat moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat terbatas, beberapa contoh zat yang sering ditentukan secara iodimetri adalah H2S, ion sulfite, Sn2+, As3+ atau N2H4. Akan tetapi karena sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-111" href="http://kimiaanalisa.web.id/iodimetri/iodimetri/"><img class="alignleft size-medium wp-image-111" title="iodimetri" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2010/07/iodimetri-199x300.jpg" alt="iodometri" hspace="10" vspace="10" width="199" height="300" /></a>Iodimetri merupakan <a title="Titrasi-Redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Titrasi-Redoks">titrasi redoks</a> yang melibatkan titrasi langsung I2 dengan suatu agen pereduksi. I2 merupakan oksidator yang bersifat moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat terbatas, beberapa contoh zat yang sering ditentukan secara iodimetri adalah H2S, ion sulfite, Sn2+, As3+ atau N2H4. Akan tetapi karena sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan I2 bersifat lebih selektif dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat.</p>
<p>Pada umumnya larutan I2 di<a title="larutan-standar" href="http://kimiaanalisa.web.id/bagaimana-membuat-larutan-standar/ ">standarisasi</a> dengan menggunakan standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium hidroksida dan kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Disebabkan kelarutan iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-.</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">I2 + I-  -&gt; I3-</span></strong></p>
<p>Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat.</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">I2 + 2OH-  &lt;-&gt; IO3-  +  I-  + H2O</span></strong></p>
<p>Sedangkan pada keadaan asam kuat maka amilum yang dipakai sebagai indicator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam.</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">4I- + O2 + 4H+  -&gt; 2I2 + 2H2O</span></strong></p>
<p>Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator dimana titik akhir titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I2 yang berwarna biru tua. Beberapa reaksi penentuan denga iodimetri ditulis dalam reaksi berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>H2S + I2 -&gt; S + 2I- + 2H+</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>SO32- + I2 + H2O -&gt; SO42- + 2I- + 2H+</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sn2+  + I2  -&gt; Sn4+ + 2I-</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>H2AsO3 + I2 + H2O -&gt; HAsO42- + 2I- + 3H+</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Lihat disini untuk <a title="soal-titrasi-redoks/" href="http://kimiaanalisa.web.id/category/soal/soal-titrasi-redoks/ ">soal titrasi redoks</a>.</span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>iodimetri</li><li>titrasi iodimetri</li><li>iodimetri dan iodometri</li><li>Iodometri dan Iodimetri</li><li>iodometri iodimetri</li><li>titrasi iodometri dan iodimetri</li><li>titrasi iodimetri adalah</li><li>Iodo-iodimetri</li><li>iodo iodimetri</li><li>iodo dan iodimetri</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/iodimetri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penentuan Titik Akhir Titrasi Redoks</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/penentuan-titik-akhir-titrasi-redoks/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/penentuan-titik-akhir-titrasi-redoks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 03:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Redoks]]></category>
		<category><![CDATA[indikator reaksi redoks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang telah kita ketahui bahwa titik akhir titrasi (TAT) redoks dapat dilakukan dengan megukur potensial larutan dan dengan menggunakan indicator. TAT dengan mengukur potensial memerlukan peralatan yang agak lebih banyak deperti penyediaan voltameter dan elektroda khisus, dan kemudian diikuti dengan pembuatan kurva titrasi redoks maka dengan alasan kemudahan dan efisiensi maka TAT dengan menggunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-105" href="http://kimiaanalisa.web.id/penentuan-titik-akhir-titrasi-redoks/indikatorredoks/"><img class="alignleft size-medium wp-image-105" title="indikatorredoks" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2010/07/indikatorredoks-300x236.jpg" alt="" hspace="10" vspace="10" width="300" height="236" /></a>Seperti yang telah kita ketahui bahwa <a title="pengertian titrasi" href="http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-titrasi/ ">titik akhir titrasi</a> (TAT) redoks dapat dilakukan dengan megukur potensial larutan dan dengan menggunakan indicator. TAT dengan mengukur potensial memerlukan peralatan yang agak lebih banyak deperti penyediaan voltameter dan elektroda khisus, dan kemudian diikuti dengan pembuatan <a title="kurva titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Kurva-Titrasi-Redoks">kurva titrasi redoks</a> maka dengan alasan kemudahan dan efisiensi maka TAT dengan menggunakan indicator yang lebih banyak untuk diaplikasikan.</p>
<p><strong>Beberapa Jenis Indikator Pada <a title="definisi titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Titrasi-Redoks">Titrasi Redoks</a></strong></p>
<p><strong>Indikator Sendiri</strong></p>
<p>Apabila titrant dan analit salah satunya sudah berwarna, sebagai contoh penentuan oksalat dengan permanganate dimana lautan oksalat adalah larutan yang tidak berwarna sedangkan permanganate berwarna ungu tua, maka warna permanganate ini dapat dipakai sebagai indicator penentuan titik akhir titrasi. Pada saat titik akhir titrasi terjadi maka warna larutan akan berubah menjadi berwarna merah muda akibat penambahan sedikit permanganate. Karena titik akhir titrasi terjadi setelah titik equivalent terjadi (baca: TAT diamati setelah penambahan sejumlah kecil permanganate agar tampak warna merah muda ) maka penggunaan blanko sangat dianjurkan untuk mengkoreksi hasil titrasi pada waktu melakukan titrasi ini. Contoh lain titrasi redoks yang melibatkan indicator sendiri adalah titrasi alkohol dengan menggunakan kalium dikromat.</p>
<p><strong>Indikator Amilum</strong></p>
<p>Indikator amilum dipakai untuk titrasi redoks yang melibatkan iodine. Amilum dengan iodine membentuk senyawa kompleks amilum-iodin yang bewarna biru tua. Pembentukan warna ini sangat sensitive dan terjadi walaupun I2 yang ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit. Titrasi redoks yang biasa menggunakan indicator amilum adalah <a title="iodimetri" href="http://kimiaanalisa.web.id/Iodimetri">iodimetri </a>dan<a title="iodometri" href="http://kimiaanalisa.web.id/Iodometri"> iodometri</a>.</p>
<p><strong>Indikator Redoks</strong></p>
<p>Indikator redoks melibatkan penambahan zat tertentu kedalam larutan yang akan dititrasi. Zat yang dipilih ini biasanya bersifat sebagai oksidator atau reduktor lemah atau zat yang dapat melakukan reaksi redoks secara reversible. Warna indicator dalam bentuk teroksidasi dengan bentuk tereduksinya berbeda sehingga perubahan warna ini dapat dipakai untuk penentuan titik akhir titrasi redoks. Reaksi indicator dapat dituliskan sebagai berikut: (Inox bentuk teroksidasi dan Inred bentuk tereduksi)</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">Inox + ne-  &lt;-&gt;  Inred</span></strong></p>
<p>Indikator redoks berubah warnanya pada kisaran potensial tertentu (hal ini analog dengan perubahan <a title="indikator asam basa" href="http://kimiaanalisa.web.id/mencari-trayek-ph-indikator-untuk-titrasi-asam-basa ">indicator asam –basa </a>yang berubah pada kisaran pH tertentu untuk membacanya Anda bisa mengikuti link ini). Jadi jika suatu indicator redoks mengalami reaksi berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Inox + n’H+ +  ne-  &lt;-&gt;  Inred  Eo</strong></span></p>
<p>Maka potensial larutan dapat dinyatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>E = Eo + 0.0591/n log [Inox][H+]</strong></span><sup><span style="color: #ff0000;"><strong>n’</strong></span></sup><span style="color: #ff0000;"><strong> / [Inred]</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>E = Eo + 0.0591/n log [Inox]/[Inred] + 0.0591/n x n’ log [H+]</strong></span></p>
<p>Karena perubahan warna terjadi terjadi pada saat [Inox]/[Inred] nilainya 10/1 atau 1/10 dan asumsikan n’=1 maka persamaan diatas menjadi:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>E1 = Eo + 0.0591/n log 1/10 + 0.0591/n  x log [H+]<br />
E1 = Eo + E o + 0.0591 log [H+] &#8211; 0.0591/n</strong></span></p>
<p><strong>J</strong>adi pada saat Eo = constant dan pH = Constant maka nilai E menjadi</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><strong>E1 = constant &#8211; 0.0591/n ……..(1)</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff0000;">E2 = Eo + 0.0591/n log 10/1 +0. 0591/n x log [H+]<br />
E2 = Eo + E o + 0.0591 log [H+] + 0.0591/n</span></strong></p>
<p>Jadi pada saat Eo = constant dan pH = Constant maka nilai E menjadi</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">E2 = constant +0.0591/n  ……..(2)</span></strong></p>
<p>Jadi Range E agar terjadi perubahan warna indicator redoks adalah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;"> Erange = E2-E1 = 0.0591/n &#8211; 0.0591/n = 0.118V/n</span></strong></p>
<p><strong>Titik akhir titrasi akan tergantung pada:</strong></p>
<ul>
<li>Eo</li>
<li>pH</li>
</ul>
<p><strong>Syarat Indikator redoks</strong></p>
<ul>
<li>Indikator harus bisa megalami raksi reduksi atau oksidasi dengan cepat.</li>
<li>Indikator harus dapat mengalami reaksi redoks reversibel dengan cepat sehingga bila terjadi penumpukan massa titrant atau analit maka sistem tidak akan mengalami reaksi oksidasi atau reduksi secara gradual.</li>
</ul>
<p>Contoh indikator redoks adalah ferroin Tris (1, 10 phenanthroline) iron(II)Sulfate yang dipakai untuk titrasi Besi(II) dengan Ce(IV), dimana bentuk teroksidasi ferooin berwarna biru muda dan bentuk tereduksinya berwarna merah darah.</p>
<p>Lihat disini untuk <a title="soal titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/category/soal/soal-titrasi-redoks/ ">soal titrasi redoks</a>.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>titik akhir titrasi</li><li>titik akhir</li><li>titik akhir titrasi adalah</li><li>indikator titrasi redoks</li><li>indikator amilum</li><li>cara menentukan titik akhir titrasi</li><li>indikator redoks</li><li>indikator titrasi kompleksometri</li><li>jenis titrasi redoks</li><li>menentukan titik akhir titrasi</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/penentuan-titik-akhir-titrasi-redoks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titrasi Redoks</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/titrasi-redoks/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/titrasi-redoks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 03:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Redoks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-101" href="http://kimiaanalisa.web.id/titrasi-redoks/titrasiredoks/"><img class="alignleft size-full wp-image-101" title="titrasiredoks" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2010/07/titrasiredoks.jpg" alt="titrasi redoks" hspace="10" vspace="10" width="150" height="150" /></a><a title="definisi titrasi" href="http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-titrasi/ ">Titrasi</a> redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate, penentuan besi(II) dengan serium(IV), dan sebagainya.</p>
<p>Karena melibatkan reaksi redoks maka pengetahuan tentang penyetaraan reaksi redoks memegang peran penting, selain itu pengetahuan tentang perhitungan sel volta, sifat oksidator dan reduktor juga sangat berperan. Dengan pengetahuan yang cukup baik mengenai semua itu maka perhitungan stoikiometri titrasi redoks menjadi jauh lebih mudah.</p>
<p><a title="titik akhit titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Penentuan-Titik-Akhir-Titrasi-Redoks">Titik akhir titrasi dalam titrasi redoks</a> dapat dilakukan dengan mebuat <a title="kurva titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/Kurva-Titrasi-Redoks">kurva titrasi antara potensial larutan dengan volume titrant</a>, atau dapat juga menggunakan indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indicator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.</p>
<p>Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin.</p>
<p>Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah<a title="iodimetri" href="http://kimiaanalisa.web.id/Iodimetri"> iodimetri</a>, iodometri, permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran  penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai <a title="iodometri" href="http://kimiaanalisa.web.id/Iodometri">I2 yang dititrasi dengan tiosulfat</a>), dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan nitrit.</p>
<p>Lihat disini untuk mengetahui <a title="soal titrasi redoks" href="http://kimiaanalisa.web.id/category/soal/soal-titrasi-redoks/">soal titrasi redoks</a>.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>titrasi redoks</li><li>titrasi redoks adalah</li><li>aplikasi titrasi redoks</li><li>titrasi serimetri</li><li>titrasi redoks iodometri</li><li>titrasi kompleksiometri</li><li>contoh soal titrasi redoks</li><li>redoks</li><li>pengertian iodometri dan iodimetri</li><li>contoh titrasi redoks</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/titrasi-redoks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Argentometri Metode Fajans</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-fajans/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-fajans/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 16:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Pengendapan]]></category>
		<category><![CDATA[argentometri]]></category>
		<category><![CDATA[indikator Fe3+]]></category>
		<category><![CDATA[metode Fajans]]></category>
		<category><![CDATA[metode volhard]]></category>
		<category><![CDATA[metofe mohr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Indicator adsorbsi dapat dipakai untuk titrasi argentometri. Titrasi argentometri yang menggunakan indicator adsorbsi ini dikenal dengan sebutan titrasi argentometri metode Fajans. Sebagai contoh marilah kita gunakan titrasi ion klorida dengan larutan standart Ag+. Dimana hasil reaksi dari kedua zat tersebut adalah: Ag+(aq)  + Cl-(aq) -&#62; AgCl(s)  (endapan putih) Endapan perak klorida membentuk endapan yang bersifat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/Indikator-Adsorbsi-Pada-Titrasi-Argentometri/">Indicator adsorbsi</a> dapat dipakai untuk<a href="http://kimiaanalisa.web.id/titrasi-pengendapan-argentometri/"> titrasi argentometri</a>. Titrasi argentometri yang menggunakan indicator adsorbsi ini dikenal dengan sebutan titrasi argentometri metode Fajans. Sebagai contoh marilah kita gunakan titrasi ion klorida dengan larutan standart Ag+. Dimana hasil reaksi dari kedua zat tersebut adalah:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Ag+(aq)  + Cl-(aq) -&gt; AgCl(s)  (endapan putih)</span></strong></p>
<p>Endapan perak klorida membentuk endapan yang bersifat koloid. Sebelum titik ekuivalen dicapai maka endapat akan bermuatan negative disebakkan teradsorbsinya Cl- di seluruh permukaan endapan. Dan terdapat counter ion bermuatan positif dari Ag+ yang teradsorbsi dengan gaya elektrostatis pada endapat. Setelah titik ekuivalen dicapai maka tidak terdapat lagi ion Cl- yang teradsorbsi pada endapan sehingga endapat sekarang bersifat netral.</p>
<p>Kelebihan ion Ag+ yang diberikan untuk mencapai titik akhir titrasi menyebabkan ion-ion Ag+ ini teradsorbsi pada endapan sehingga endapan bermuatan positif dan beberapa ion negative teradsorbsi dengan gaya elektrostatis sebagai counter ion.</p>
<p>Indikator adsorbsi merupakan pewarna, seperti diklorofluorescein yang berada dalam keadaan bermuatan negative dalam larutan titrasi akan teradsorbsi sebagai counter ion pada permukaan endapan yang bermuatan positif. Dengan terserapnya ini maka warna indicator akan berubah dimana warna diklorofluorescein menjadi berwarna merah muda. Mekanisme teradsorbsinya indicator ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-96" title="mekanismeindikatoradsorbsi" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2009/12/mekanismeindikatoradsorbsi.JPG" alt="mekanismeindikatoradsorbsi" width="405" height="312" /></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>titrasi argentometri metode fajans</li><li>pengertian metode volhard</li><li>metode fajan</li><li>argentometri cara fajans</li><li>metoda fajans</li><li>pengertian metode fajans</li><li>titrasi argentometri cara fayans</li><li>titrasi argentometri FAJANS</li><li>analisa kualitatif ion CL dengan metode mohr</li><li>argentometyri metode fajans</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-fajans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Argentometri Metode Volhard</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-volhard/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-volhard/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 16:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Pengendapan]]></category>
		<category><![CDATA[argentometri]]></category>
		<category><![CDATA[indikator Fe3+]]></category>
		<category><![CDATA[metode Fajans]]></category>
		<category><![CDATA[metode volhard]]></category>
		<category><![CDATA[metofe mohr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Konsentrasi ion klorida, iodide, bromide dan yang lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan larutan standar perak nitrat. Larutan perak nitrat ditambahkan secara berlebih kepada larutan analit dan kemudian kelebihan konsentrasi larutan Ag+ dititrasi dengan menggunakan larutan standar tiosianida (SCN-) dengan menggunakan indicator ion Fe3+. Ion besi(III) ini akan bereaksi dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-93" title="titikakhirtitrasimetodevolhard" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2009/12/titikakhirtitrasimetodevolhard.JPG" alt="titikakhirtitrasimetodevolhard" width="406" height="303" /><br />
Konsentrasi ion klorida, iodide, bromide dan yang lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan <a href="http://kimiaanalisa.web.id/bagaimana-membuat-larutan-standar/ ">larutan standar</a> perak nitrat. Larutan perak nitrat ditambahkan secara berlebih kepada larutan analit dan kemudian kelebihan konsentrasi larutan Ag+ dititrasi dengan menggunakan larutan standar tiosianida (SCN-) dengan menggunakan indicator ion Fe3+. Ion besi(III) ini akan bereaksi dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna merah.</p>
<p>Reaksi yang terjadi dalam titrasi <a href="http://kimiaanalisa.web.id/titrasi-pengendapan-argentometri/">argentometri</a> dengan metode volhard adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Ag+(aq)  + Cl-(aq) -&gt; AgCl(s)  (endapan putih)</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Ag+(aq)  + SCN-(aq) -&gt; AgSCN(s) (endapan putih)</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Fe3+(aq)  + SCN(aq) -&gt; Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)</span></strong></p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-titrasi/ ">Titrasi</a> dengan cara ini disebut sebagai titrasi balik atau titrasi kembali. Mol analit diperoleh dari pegurangan mol perak mula-mula yang ditambahkan dengan mol larutan standar tiosianat.  Karena perbandingan mol dari reaksi adalah 1:1 semua maka semua hasil diatas dapat langsung dikurangi.</p>
<p><strong>Mol analit = mol Ag+ total – mol SCN</strong></p>
<p>Aplikasi dari <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Metode-Titrasi-Argentometri/">argentometri </a>dengan metode Volhard ini adalah penentuan konsentrasi ion halide. Kondisi titrasi denga metode Volhard harus dijaga dalam kondisi asam disebabkan jika laruran analit bersifat basa maka akan terbentuk endapat Fe(OH)3. Jika kondisi analit adalah basa atau netral maka sebaiknya titrasi dilakukan dengan metode <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Mohr/">Mohr</a> atau <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Fajans/">fajans</a>.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>metode volhard</li><li>argentometri metode volhard</li><li>titrasi argentometri metode volhard</li><li>Titrasi Volhard</li><li>argentometri volhard</li><li>titrasi pengendapan cara mohr</li><li>aplikasi titrasi pengendapan</li><li>argentometri cara volhard</li><li>APLIKASI ARGENTOMETRI</li><li>titrasi argentometri volhard</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-volhard/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Argentometri Metode Mohr</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-mohr/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-mohr/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 16:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Pengendapan]]></category>
		<category><![CDATA[argentometri]]></category>
		<category><![CDATA[indicator titrasi argentometri]]></category>
		<category><![CDATA[metode Mohr]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan klorida Cl- dengan cara titrasi]]></category>
		<category><![CDATA[titrasi volumetric]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Konsentrasi ion klorida dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan cara titrasi dengan larutan standart perak nitrat. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses titrasi berlangsung dan digunakan indicator larutan kalium kromat encer. Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan indicator membentuk endapan coklat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-90" title="titikakhirtitrasimetodemohr" src="http://kimiaanalisa.web.id/wp-content/uploads/2009/12/titikakhirtitrasimetodemohr.JPG" alt="titikakhirtitrasimetodemohr" hspace="10" vspace="10" width="350" height="212" />Konsentrasi ion klorida dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan cara <a href="http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-titrasi/ ">titrasi </a>dengan <a href="http://kimiaanalisa.web.id/bagaimana-membuat-larutan-standar/ ">larutan standart</a> perak nitrat. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses titrasi berlangsung dan digunakan indicator larutan kalium kromat encer. Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan indicator membentuk endapan coklat kemerahan Ag2CrO4 (lihat gambar). Prosedur ini disebut sebagai titrasi argentometri dengan metode Mohr.</p>
<p>Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Ag+(aq)  + Cl-(aq) -&gt; AgCl(s) (endapan putih)</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Ag+(aq)  +  CrO42-(aq) -&gt; Ag2CrO4(s) (coklat kemerahan)</span></strong></p>
<p>Penggunaan metode Mohr sangat terbatas jika dibandingkan dengan <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Volhard/">metode Volhard </a>dan<a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Fajans/"> Fajans </a>dimana dengan metode ini hanya dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi ion Cl- , CN-, dan Br-.</p>
<p><a href="http://kimiaanalisa.web.id/Metode-Titrasi-Argentometri/">Titrasi argentometri </a>dengan metode Mohr banyak dipakai untuk menentukan kandungan klorida dalam berbagai contoh air, misalnya air sungai, air laut, air sumur, air hasil pengolahan industri sabun, dan sebgainya.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi dengan metode Mohr adalah titrasi dilakukan dengan kondisi larutan berada pada pH dengan kisaran 6,5-10 disebabkan ion kromat adalah basa konjugasi dari asam kromat. Oleh sebab itu jika pH dibawah 6,5 maka ion kromat akan terprotonasi sehingga asam kromat akan mendominasi di dalam larutan akibatnya dalam larutan yang bersifat sagat asam konsentrasi ion kromat akan terlalu kecil untuk memungkinkan terjadinya endapan Ag2CrO4 sehingga hal ini akan berakibat pada sulitnya pendeteksian titik akhir titrasi. Pada pH diatas 10 maka endapan AgOH yang berwarna kecoklatan akan terbentuk sehingga hal ini akan menghalangi pengamatan titik akhir titrasi. Analit yang bersifat asam dapat ditambahkan kalsium karbonat agar pH nya berada pada kisaran pH tersbut atau dapat juga dilakukan dengan menjenuhkan analit dengan menggunakan padatan natrium hydrogen karbonat.</p>
<p>Disebabkan kelarutan AgCl dan Ag2CrO4 dipengaruhi oleh suhu maka semua titrasi dilakukan pada temperature yang sama. Pengadukan/ pengocokan selama larutan standar ditambahkan sangat dianjurkan disebabkan hal ini dapat mempermudah pengamatan pencapaian titik akhir titrasi dan perak kromat yang terbentuk sebelum <a href="http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-titrasi/ ">titik akhir titrasi </a>dicapai dapat dipecah sehingga terlarut kembali.</p>
<p>Larutan silver nitrat dan endapan perak klorida yang terbentuk harus dilindungi dari sinar matahari hal ini disebabkan perak klorida dapat terdekomposisi menurut reaksi berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">AgCl(s)  -&gt; Ag(s)  + ½ Cl2(g)</span></strong></p>
<p>Konsentrasi ion perak pada saat terjadi titik equivalent titrasi klorida ditentukan dari harga Ksp AgCl yaitu:</p>
<p><strong>[Ag+] = (Ksp AgCl)exp1/2 = 1.35 x 10</strong><sup><strong>-5</strong></sup><strong> M</strong></p>
<p>Dan konsentrasi ion kromat yang diperlukan untuk inisiasi terbentukanya endapan perak kromat adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>[CrO42-] = Ksp / [Ag+]exp2 = 0,0066 M</strong></p>
<p>Pada dasarnya untuk mencapai terbentuknya endapan perak kromat maka konsentrasi ion kromat sejumlah tersebut harus ditambahkan akan tetapi konsentrasi ion kromat sejumlah tersbut menyebabkan terbentuknya warna kuning yang sangat intensif pada larutan analit sehingga warna perak kromat akan susah sekali untuk diamati oleh sebab itu maka konsentrasi dibawah nilai tersebut sering digunakan.</p>
<p>Konsekuensi dari penurunan nilai konsentrasi ion kromat ini akan menyebebabkan semakin banyaknya ion Ag+ yang dibutuhkan agar terbentuk endapan Ag2CrO4 pada saat terjadinya titik akhir titrasi, dan hal lain yaitu tidak mudahnya pengamatan warna Ag2CrO4 diantara warna putih AgCl yang begitu banyak akan mendorong semakin besarnya jumlah Ag2CrO4 yang terbentuk.</p>
<p>Dua hal ini akan mempengaruhi keakuratan dan kepresisian hasil analisis oleh sebab itu diperlukan blanko untuk mengoreksi hasil ditrasi. Blanko diperlakukan dengan metode yang sama selama analisis akan tetapi tanpa kehadiran analit.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>argentometri metode mohr</li><li>titrasi argentometri metode mohr</li><li>pengertian argentometri</li><li>argentometri mohr</li><li>contoh soal argentometri</li><li>pengertian titrasi argentometri</li><li>titrasi pengendapan argentometri</li><li>titrasi pengendapan metode mohr</li><li>argentometri cara mohr</li><li>titrasi Mohr</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-mohr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metode Titrasi Argentometri</title>
		<link>http://kimiaanalisa.web.id/metode-titrasi-argentometri/</link>
		<comments>http://kimiaanalisa.web.id/metode-titrasi-argentometri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 15:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigomorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titrasi Pengendapan]]></category>
		<category><![CDATA[: titrasi argentoetri]]></category>
		<category><![CDATA[metode Fajans]]></category>
		<category><![CDATA[metode Mohr]]></category>
		<category><![CDATA[metode volhard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kimiaanalisa.web.id/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Pada umumnya titrasi argentometri dapat dibedakan atas tiga metode berdasarkan indicator yang dipakai dalam titrasi tersebut, yaitu: Indikator kalium kromat K2CrO4 Titrasi argentometri dengan menggunakan indicator ini biasa disebut sebagai argentoetri dengan metode Mohr. Ini merupakan titrasi langsung titrant dengan menggunakan larutan standar AgNO3. Titik akhir titrasi diamati dengan terbentuknya endapan Ag2CrO4 yang brwarna kecoklatan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada umumnya titrasi argentometri dapat dibedakan atas tiga metode berdasarkan indicator yang dipakai dalam titrasi tersebut, yaitu:</p>
<p><strong>Indikator kalium kromat K2CrO4</strong></p>
<p>Titrasi argentometri dengan menggunakan indicator ini biasa disebut sebagai argentoetri dengan <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Mohr/">metode Mohr</a>. Ini merupakan titrasi langsung titrant dengan menggunakan larutan standar AgNO3. Titik akhir titrasi diamati dengan terbentuknya endapan Ag2CrO4 yang brwarna kecoklatan.</p>
<p><strong>Indikator Fe3+</strong></p>
<p>Titrasi argentometri dengan indicator ini disebut sebagai titrasi argentometri dengan <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Volhard/">metode volhard</a>. Titrasi ini merupakan titrasi tidak langsung dimana larutan standar AgNO3 ditambahkan secara berlebih dan kelebihan ini dititrasi dengan larutan standart SCN-.</p>
<p><strong><a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Fajans/">Indikator adsorbsi</a></strong></p>
<p>Titrasi argentometri dengan indicator adsorbsi disebut sebagai titrasi argentometri dengan menggunakan <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Argentometri-Metode-Fajans/">metode Fajans</a>. Indikator yang dipakai adalah <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Indikator-Adsorbsi-Pada-Titrasi-Argentometri/">indicator adsorbsi</a> Dimana indicator ini akan berubah warnanya jika teradsorbsi pada permukaan endapan.</p>
<p>Selain menggunakan teknik diatas maka titrasi argentometri juga dapat dilakukan dengan menggunakan indicator yang berupa indicator electrode. Plot antara Esel dengan jumlah titran akan dapat diperoleh <a href="http://kimiaanalisa.web.id/Kurva-Titrasi-Argentometri/">kurva titrasi</a> dengan grafik ini maka kita nantinya dapat menentukan titik akhir titrasi.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>titrasi argentometri</li><li>metode argentometri</li><li>argentometri titrasi</li><li>teknik titrasi</li><li>teknik analisis titrasi</li><li>metode titrasi argentometri</li><li>jurnal argentometri</li><li>indikator argentometri</li><li>titrasi langsung</li><li>titrasi argenometri</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kimiaanalisa.web.id/metode-titrasi-argentometri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

